Identitas Buku
Judul : Si
Anak Pintar
Penulis :
Tere Liye
Penerbit : Republika Penerbit
Tahun Terbit : 2018
(Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman : 345 Halaman
Pukat
Yang Cerdik dan Genius
Cerita masa kecil Pukat diawali dengan
perjalanan Pukat bersama Burlian dan Bapak menaiki kereta api ke kota. Mereka
semangat ingin merasakan masuk terowongan karena banyak cerita mengenai
terowongan itu yang mereka dengar dari teman-temannya. Saat sudah memasuki
terowongan, Pukat sangat kagum karena melihat pemandangan dalam gelapnya
terowongan itu.
Namun, saat di pertengahan terowongan,
kereta api diberhentikan oleh sekelompok perampok bersenjata. Dalam keadaan
yang gelap, perampok itu memaksa penumpang untuk menaruh harta yang dimiliki ke
karung bawaan mereka, jika melawan maka penumpang akan disakiti. Karena
ketakutan penumpang-penumpang pun menaruh dompet dan harta yang lain.
Dengan kepintaran Pukat, dia mencari cara
agar perampok itu bisa ketahuan siapa orangnya. Pukat mengambil serbuk kopi
lalu ditaburkan ke celana dan sepatu perampok. Saat kereta api sudah sampai ke
stasiun Pukat memberi tahu petugas bahwa pelaku perampokan itu adalah orang
yang sepatunya berbau kopi. Semua penumpang diperiksa satu-satu dan
tertangkaplah satu kelompok perampok berkat kepintaran Pukat.
Setelah kejadian itu berlalu, Pukat ,
kakaknya, dan adiknya pergi mengunjungi rumah Wak Yati. Setiap kali Pukat
mengunjungi rumah Wak Yati, dia selalu diberi sebuah teka-teki. Pukat selalu
dapat menjawabnya. Namun, sekarang Wak Yati memberikan teka-teki terbaiknya.
“Langit
tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkuk, hutan menghijau seperti
zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampong ini.
Sungguh tak terbilang. Maka yang manakah harta karun paling berharganya?”.
Itulah teka-teki terbaik Wak Yati.
Setelah 14 tahun terlampaui,
Pukat yang sudah berkuliah di Belanda masih belum menemukan jawabannya Karena
sibuk dengan aktivitasnya. Suatu ketika, Pukat mendapat surat dari adiknya
Burlian. Setelah membacanya, muncul jawaban dari teka-teki Wak Yati di pikiran
Pukat, yang ternyata jawabannya adalah anak-anak yang dibesarkan oleh
kebijaksanaan alam, dididik langsung oleh keseder- hanaan kampung.
Kelebihan dari novel ini adalah
gagasan/ide cerita yang sangat bagus tentang anak yang diberi teka-teki sulit
dan juga banyak pesan moral dan pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari novel
ini. Pesan Novel ini adalah kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki
walaupun hanya sebutir nasi karena itu adalah rejeki yang tidak boleh dibuang
sia-sia. Novel ini juga memiliki pesan untuk selalu menghormati dan menaati
perintah ibu, karena ibu sudah membesarkan kita sepenuh hati.
Kekurangan dari novel ini adalah pembaca
tidak bisa langsung memahami kesuluruhan dari isi cerita novel ini, karena jika
belum membaca seri novel sebelumnya dari serial Anak Nusantara ada beberapa hal
yang pembaca kurang paham karena tidak dijelaskan lebih dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar