Senin, 13 Mei 2019

Resensi Haikal


Identitas Buku
Judul                          : Si Anak Pintar
Penulis                      : Tere Liye
Penerbit                    : Republika Penerbit
Tahun Terbit            : 2018 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman     : 345 Halaman


Pukat Yang Cerdik dan Genius
     Si Anak Pintar merupakan seri ketiga dari serial Anak Nusantara ciptaan Tere Liye. Judul lain dari buku ini adalah Pukat – Serial Anak Mamak. Dari semua puluhan buku ciptaan Tere Liye serial buku ini adalah mahkotanya. Novel ini menceritakan tentang petualangan seru pada masa kecilnya Pukat. Anak kedua di keluarganya. Masa kecil Pukat dipenuhi dengan banyak hal-hal seru dan juga kejadian kocak bersama teman-teman di sekolahnya maupun bersama keluarganya.
     Cerita masa kecil Pukat diawali dengan perjalanan Pukat bersama Burlian dan Bapak menaiki kereta api ke kota. Mereka semangat ingin merasakan masuk terowongan karena banyak cerita mengenai terowongan itu yang mereka dengar dari teman-temannya. Saat sudah memasuki terowongan, Pukat sangat kagum karena melihat pemandangan dalam gelapnya terowongan itu.
     Namun, saat di pertengahan terowongan, kereta api diberhentikan oleh sekelompok perampok bersenjata. Dalam keadaan yang gelap, perampok itu memaksa penumpang untuk menaruh harta yang dimiliki ke karung bawaan mereka, jika melawan maka penumpang akan disakiti. Karena ketakutan penumpang-penumpang pun menaruh dompet dan harta yang lain.
    
     Dengan kepintaran Pukat, dia mencari cara agar perampok itu bisa ketahuan siapa orangnya. Pukat mengambil serbuk kopi lalu ditaburkan ke celana dan sepatu perampok. Saat kereta api sudah sampai ke stasiun Pukat memberi tahu petugas bahwa pelaku perampokan itu adalah orang yang sepatunya berbau kopi. Semua penumpang diperiksa satu-satu dan tertangkaplah satu kelompok perampok berkat kepintaran Pukat.
     Setelah kejadian itu berlalu, Pukat , kakaknya, dan adiknya pergi mengunjungi rumah Wak Yati. Setiap kali Pukat mengunjungi rumah Wak Yati, dia selalu diberi sebuah teka-teki. Pukat selalu dapat menjawabnya. Namun, sekarang Wak Yati memberikan teka-teki terbaiknya.
     Langit tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkuk, hutan menghijau seperti zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampong ini. Sungguh tak terbilang. Maka yang manakah harta karun paling berharganya?”. Itulah teka-teki terbaik Wak Yati.
     Setelah 14 tahun terlampaui, Pukat yang sudah berkuliah di Belanda masih belum menemukan jawabannya Karena sibuk dengan aktivitasnya. Suatu ketika, Pukat mendapat surat dari adiknya Burlian. Setelah membacanya, muncul jawaban dari teka-teki Wak Yati di pikiran Pukat, yang ternyata jawabannya adalah anak-anak yang dibesarkan oleh kebijaksanaan alam, dididik langsung oleh keseder- hanaan kampung.
     Kelebihan dari novel ini adalah gagasan/ide cerita yang sangat bagus tentang anak yang diberi teka-teki sulit dan juga banyak pesan moral dan pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari novel ini. Pesan Novel ini adalah kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki walaupun hanya sebutir nasi karena itu adalah rejeki yang tidak boleh dibuang sia-sia. Novel ini juga memiliki pesan untuk selalu menghormati dan menaati perintah ibu, karena ibu sudah membesarkan kita sepenuh hati.
     Kekurangan dari novel ini adalah pembaca tidak bisa langsung memahami kesuluruhan dari isi cerita novel ini, karena jika belum membaca seri novel sebelumnya dari serial Anak Nusantara ada beberapa hal yang pembaca kurang paham karena tidak dijelaskan lebih dalam.

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lomba Resensi Buku

Lomba kali ini siswa diharapkan mampu mengulas sebuah buku terbitan di atas 2015. Siswa menuliskannya secara biasa di buku tulis dan mengeti...